From : Hermin Susanty (Media Indonesia Online)
Memetik Pengalaman, Fenomena Jadi Hikmah
ADA banyak hal yang terlewati begitu saja dalam hidup ini tanpa berhasil kita maknai. Pengalaman pribadi maupun orang lain, termasuk fenomena alam yang bertaburan, selayaknya dipetik menjadi hikmah.
Namun, tidak banyak manusia yang mencoba meraih hikmah tersebut. Bila saja kita berkenan merenung sejenak, kita akan menemukan kuasa Allah swt yang menciptakan alam ini tanpa tidak sia-sia.
Buku berjudul Daun Berserakan: Sebuah Renungan Hati yang ditulis Palgunadi T Setyawan merupakan karya sederhana dengan isi begitu indah. Ada gambaran soal perenungan, yang sehari-hari muncul di benak, yang dituangkan dalam tulisan oleh Palgunadi.
Saat bangun di suatu pagi, apakah yang Anda inginkan? Tentu saja agar urusan hari itu lancar tanpa menemui persoalan, apalagi masalah yang rumit. Intinya, Anda menghendaki hari itu berjalan mulus dan bahagia, tak menginginkan kesedihan. Ingin bersuka, namun tak berharap berduka.
Pertanyaan yang timbul kemudian adalah, bagaimana caranya? Apakah bahagia dan sedih suatu pilihan? Atau, keadaan yang mau tak mau pasti kita rasakan?
Buku dengan sentuhan warna putih tersebut seolah-olah menggambarkan ketenangan ketika Anda mulai membuka buku. Kesan ini ditunjukkan pula dengan pilihan kata yang santun. Di dalamnya, diuraikan upaya kita menjalani hidup sederhana, tapi penuh pesona.
Pasalnya, menjadikan hidup indah dan bahagia rupanya cukup sederhana. Caranya, bersyukur ketika mendapat anugerah, bersabar sewaktu ditimpa musibah. Jangan lupa, selalu berprasangka baik kepada-Nya. Allah selalu memberikan yang terbaik kepada kita asalkan kita memenuhi hak-Nya.
Indah, bahagia, maupun sederhana, bukan sesuatu yang rumit. Seseorang menghendaki kebahagiaan dengan resep cukup sederhana. Anggaplah hidup sebagai karunia. Karunia untuk kita patut disyukuri.
Uraian tersebut dibahas dalam buku ini, yang dibagi dalam 12 bab. Di antaranya, tentang Berpikir dan Berzikir yang memakai konsep berpikir maupun kesadaran. Misalnya, sadar diri, fasilitas, peranan diri serta orang lain, dan silaturahmi. Tentu, tak melupakan anugerah nan penuh berkah yang diberikan Allah, seperti pancaindra, akal budi, rasa kalbu, dan kehidupan.
Setelah semua dilakukan, tumbuhkan strategi sukses dalam hidup Anda! Dalam satu bab dikupas Segitiga Kunci Sukses Kehidupan, terdiri atas khusnudzan, syukur, dan sabar. Juga, langkah untuk menciptakan keseimbangan di antara ketiganya supaya masing-masing mempunyai kadar yang sama.
Diulas pula kebiasaan Seorang Muslim yang Efektif, Miskin maupun Kaya yang Sesungguhnya, Mengangkat Manusia yang Tertindas, Apakah Rezeki yang Baik Itu?, Mengenal Diri Mengenal Tuhan, Membuat Motivasi Berkesinambungan, Konsep 5C: Refleksi Rukun Islam, Menghadapi Rasa Takut, Problematika Hidup dan Kiat Menghadapinya, serta Sosok Muslim Ideal.
Karena itu, sederhanalah dalam menjalani hidup. Sederhana pula dalam memperoleh kebahagiaan. Maka, keindahan akan kita jumpai di dalamnya. Sederhana itu indah. Kenzo Takada menggambarkan dedaunan yang sederhana itu sebagai sesuatu yang indah dan tergambar jelas dalam buku tersebut.