From : Alumni Gamais ITB
" Aku diberitahu tentang sebuah masjid , yang tiang-tiangnya dari pepohonan di hutan, fondasinya batu karang dan pualam pilihan. Atapnya menjulang tempat bersangkutnya awan dan kubahnya tembus pandang, yang menara-menaranya menyentuh lapisan langit dan menyeru azan tak habis-habisnya Aku rindu dan mengembara mencarinya. "
Aku diberitahu tentang sebuah masjid, yang letaknya dimana bila saat azan zuhur engkau masuk kedalamnya walau engkau berjalan sampai waktu ashar, tak kan tercapai saf pertama sehingga bila engkau tak mau kehilangan waktu, bershalatlah di mana saja di lantai masjid ini yang sangat luas , aku rindu dan mengembara mencarinya"
Demikianlah cuplikan puisi "Mencari sebuah mesjid" yang disampaikan dengan pengucapan intonasi yg menggetarkan langsung oleh penyairnya Taufik Ismail, selepas solat taraweh halaman di mesjid salman ITB, Bandung beberapa hari yg lalu. Syahdu sekali mendengarkan puisi2 beliau di halaman rumput samping mesjid, dalam temaram lampu cempor, bernaungkan langit penuh bintang, sebuah malam ramadhan yg penuh makna.
Selesai membacakan puisi tersebut Taufik Ismail berkata pula, bahwa mesjid Salman ini adalah salah satu mesjid yg masuk kriteria mesjid yang dirindukan tersebut, karena memang banyak kegiatan sosial budaya yg bersumber dari mesjid tersebut untuk kebaikan masyarakat banyak. Beliau bercerita pula, bahwa mesjid Salman, telah memberi inspirasi beberapa puisinya, antara lain yg dijadikan syair lagu religius grup musik Bimbo, yang tinggal di daerah Dago, tak jauh dari mesjid salman berada.
Puisi yang disampaikan nya tersebut adalah sebuah puisi yg penuh makna, betapa sebenarnya tempat kita bersujud, beribadah, berbuat kebaikan adalah sangat luas, seluas alam terbentang. Bermakna juga itulah visi hidup kita di dunia ini, berbuat kebaikan ( ibadah dalam arti luas ), tak hanya terkungkung dalam ruangan sempit bangunan mesjid. tak hanya berbentuk pengabdian secara vertikal, pada Allah, tapi juga adalah menyebar kebaikan pada sesama manusia...
Hidup ini yg bagaikan sebuah perjalanan, memerlukan tujuan visi yg jelas, untuk apa kita hidup di dunia ini ?Aristoteles filosof Yunani kuno, guru Alexander the great, yang pernah menjelajahi penjuru dunia di masa lampau, mengatakan bahwa " Perjalanan hidup seorang manusia tanpa visi yg jelas, bukan lah hidup yg layak untuk dijalani "
Cobalah kita tanya diri kita sendiri, sudahkan kita tahu apa tujuan hidup ini ?
sudahkah kita memiliki visi yg jelas dalam hidup ini ?
Kebanyakan orang saat ini, hidup bagaikan selalu dalam kondisi dikejar2 keperluan hidup, hidup dalam "survival mode" , menurut istilah teknik dari seorang teman.yang artinya, kita hanya sibuk menyelesaikan masalah2 jangka pendek sehari2 yg menyita waktu.kita hanya berusaha untuk bisa survive hidup, setelah teraih, kemudian menikmati hidup.yang kemudian membuat kita malas untuk berpikir lebih tinggi lagi, seperti memikirkan tentang kehidupan ini, makna, tujuan dan visi hidup ini yang kita anggap sekedar "bahasa2 langit" , yang tak dibutuhkan dalam dunia riel.tanpa disadari , kita tak mau beranjak untuk memasuki "peradaban berpikir" yg lebih tinggi lagi.
Selepas sholat zuhur, saya lihat seseorang yg rasanya saya kenal, ternyata beliau adalah pak Palgunadi T Setiawan, yg juga pernah mengajar saya di kampus dulu, beliau adalah mantan vice president Astra Internasional di tahun 80-an. Saya jarang bertemu beliau, tapi ternyata beliau sangat akrab dan mau diajak ngobrol2 santai di dekat mesjid.
Setelah berhenti dari kegiatan bisnis, di usia tuanya pak Palgunadi banyak aktif di kegiatan sosial, antara lain mendirikan lembaga pembiayaan usaha kecil dg nama, BPR Parasahabat yg terinspirasi oleh Grameen bank di Bangladesh. Lembaga ini ia dirikan bersama dengan para mantan top manajemen Astra yg ternyata juga adalah sahabat2 lama nya sejak kuliah di ITB dulu, TP Rahmat dan Beny Subianto. Dananya berasal dari mereka sendiri, dan lembaga tersebut tak bertujuan mencari profit, tapi lebih bagaimana membantu sesama manusia, khususnya para pengusaha kecil. Walau berasal dari latar belakang dan agama yg berbeda, mereka berniat mulia membantu masyarakat kecil.
Di Bandung pak Palgunadi, tinggal di daerah Gegerkalong, dekat dengan pesantren Darut Tauhid , pimpinan Aa Gym. Secara pribadi pak Palgunadi banyak juga membantu pengembangan manajemen usaha unit bisnis MQ. Walau berlatar belakang teknik dan bisnis, beliau sempat juga menulis buku dg judul " Daun berserakan" , sebuah renungan hati.
Terus terang saya jadi kagum pada beliau, betapa ia telah menjalani hidup dg bahagia, keluarga bahagia, tubuh sehat, secara materi tercukupi dan secara batiniah spiritual ia orang yg tenang, soleh dan taat.
Saya tanya, apakah karena telah usia tua, seseorang menjadi bijak dan soleh, Ia berkata bahwa semua ini telah dimulai sejak masa muda dulu, bagaimana membangun kebersihan hati, ketulusan jiwa dan kecerdasan. Dan dalam hal tsb, faktor keluarga sangat mendukung.
Banyak orang berharap, nanti sudah tua saja, jadi baik, banyak beramal, dan di masa muda biar foya2 dulu, menikmati hidup. Orang2 spt itu tak sadar bahwa sebenarnya ia telah dikelabui oleh logika yg salah. Kebaikan perlu dimulai sejak muda, malah dari masa kecil di keluarga. Adalah penting untuk membangun integritas diri dan memiliki visi hidup yg jelas, sejak awal.
Teman yg ikut duduk mendengarkan di sebelah tanya lagi, ngomong2 apa obsesinya pak Palgunadi saat ini ? Beliau bilang saya tak punya obsesi dalam hidup ini, tapi kita harus punya visi yg jelas tentang kehidupan ini, beliau bilang, visi hidupnya ingin mengabdi pada Allah yang antara lain terwujud dalam usaha berbuat kebaikan pada sesama manusia.
Perjalanan hidup ini dan apa yg berada di sekiling kita haruslah berkah.Berkah ialah tersebarnya kebaikan ilahiah ( ketuhanan ) dalam apa yg kita lakukan, dalam apa yg berada di sekitar kita. Kalau sudah penuh dengan kebaikan ilahiah, tak ada lagi yg lebih utama karena nya....
Banyak orang sering salah kaprah, hidupnya tergerak karena sebuah obsesi. Padahal obsesi yg bersifat jangka pendek dan cenderung materialistik duniawi, malah bisa membuat manusia seolah terpenjarakan karena nya. Visi hiduplah yg perlu kita punyai, bukan sekedar obsesi.
Tanpa disadari, keadaan di sekeliling kita saat ini, banyak membuat kita mengejar obsesi2 duniawi. Entah dari mass media, televisi, omongan teman, obrolan tetangga, atau orang2 di sekitar kita lainnya. Kita mengejar sebuah obsesi dari persepsi yg tanpa sadar tertanam pada otak bawah sadar kita. Semisal obsesi anak muda yg ingin jadi orang kaya, punya istri cantik, mobil mahal, rumah mewah, jadi orang terkenal, dan setumpuk obsesi capitalism-consumerism lain nya.
Obsesi bersifat temporer, begitu kita raih, lama kelamaan akan bosen juga, tak menarik lagi, kita akan terpacu oleh obsesi lain nya, begitu lah tanpa akhir bagai mengejar fatamorgana.
Pak Palgunadi kemudian, minta kertas kecil dan pulpen, untuk membuat coret2 skema dan pointers singkat , untuk berusaha sedikit memberi penjelasan, sambil kita duduk2 santai di dekat mesjid.
Dalam kaidah psikologi, ada beberapa tahapan kompetensi berpikir ; Cognitive ( knowledge ) -creative - reflective ( contemplation) Cognitive adalah pola berpikir linier ( berpikir lurus apa adanya ) , spt pola pikir eksakta atau matematik, sedangkan creative thinking adalah pola pikir yg bersifat circular-improve , melingkar tapi selalu berkembang. Reflective thinking adalah kompetensi berpikir yg lebih tinggi lagi yg bersifat integral, menembus berbagai sekat ; sekat waktu masa lalu dan masa depan, bahkan sekat transedental. Bentuk sederhana nya adalah perenungan dari berbagai pengalaman hidup kita selama ini yang berujung pada sebuah konklusi kesadaran diri dalam kehidupan ini...
Orang yang tawadhu, rendah hati, tulus, merunduk bagaikan batang padi yg berisi , adalah mereka yg telah bisa mencapai proses berpikir yang lengkap tersebut.Orang yang tawadhu, akan banyak bersyukur dengan anugerah kehidupan ini, tambah banyak ia bersyukur akan bertambahlah pula kebahagiaan nya.
Dengan berawal dari rasa syukur , kita menjalani kehidupan sehari hari ini, beramal dan berbuat kebaikan. Insya Allah hidup ini terasa indah dan penuh makna. Tambah banyak kita bersyukur akan tambah banyak lagi nikmat dari Allah.
Kembali ke obrolan santai dengan pak Palgunadi diatas, selesai menulis point2 ringkas dan penjelaskan di kertas kecil tsb, tiba rekan yang dari tadi ikut duduk mendengarkan juga di sebelah menyela lagi. Ia berpendapat bahwa dalam kehidupan ini kita tak selalu menghadapi jalan yg mulus2 saja atau jelas hitam putih, banyak hal yg bersifat abu2 ( tidak jelas benar salah nya, halal haram nya ), dan berbagai hambatan2 lain nya. Kita tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi berbagai masalah saat ini, kita kurang kemampuan, kurang itu, kurang ini, tak punya itu , tak punya ini, dan beberapa keluhan lain nya.
Dengan bijaksana pak Palgunadi bilang, marilah kita selalu positive thinking dalam menghadapi segala hal, marilah mulai kita kurangi sikap mengeluh dan penggunaan kata2 negatif seperti ; kalau, andai, tidak dll.
Sikap selalu berpikir positif akan membuat apa yg kita hadapi menjadi terang, walau hanya secercah sinar lilin kecil di tengah kegelapan malam. Ia bercerita salah satu hal yg menyebabkan persahabatan nya langgeng dengan kawan2 lamanya dan luas silaturahminya ialah karena selalu berpikir positif dan mengedepankan ketulusan hati , menjauhi pikiran2 dan perkataan negatif .