Pengendalian Diri
Oleh : Palgunadi T. Setyawan

 

Ada yang bilang, kemakmuran itu ditandai oleh dua hal. Yang pertama adanya keberlimpahan pilihan. Yang kedua dinginnya ruangan berAC. Makin dingin suatu ruangan karena ACnya, berarti makin makmur pemilik ruangan itu. Tentulah ini suatu guraum walau ada benarnya.

Tentang keberlimpahan pilihan, dilukiskan tatkala kita makan siang ala buffet disuatu hotel mewah berbintang di Jakarta ini. Tersajilah dihadapan kita berbagai jenis makanan dan minuman yang semuanya sedap dipandang mata, menggiurkan dirasa dan menimbulkan air liur kita.

Apalagi bila dibenak kita, tidak bisa dilupakan berapa harga yang harus kita bayar untuk menikmati kebebasan memilih itu.

Maka, bila kita membiarkan kita untuk memanfaatkan kemerdekaan itu sekehendak selera mata kita, tanpa memperhitungkan apa yang mulut kita bisa mengunyah dan yang perut kita mampu menampungnya, maka kenikmatan yang kita harapkan, yang seharusnya kita dapat berubah menjadi petaka sakit perut.

Disinilah, kebutuhan pengendalian diri muncul. Seorang yang bijak, dalam keadaan sebagaimana digambarkan diatas, akan melupakan harga yang dia harus bayar untuk berada disitu. Dia memusatkan pikirannya untuk menikmatai kebebasan memilihnya dengan rasa gembira. Mengambil makanan yang paling disukai dalam jumlah dan macam yang membuat hatinya damai. Dan berhenti menggunakan haknya menyelesaikan santapannya dengan rasa bersyukur.

Inilah kebahagiaan sejati, gembira dalam melakukannya, damai dihati dalam menikmatinya dan bersyukur dalam menyelesaikannya. Hidup tidak jauh dari ilustrasi diatas. Penciptaan alam semesta ini, khususnya bumi tempat tinggal kita ini diatur oleh suatu keESAan hukum yang ditandai dengan adanya pasangan. Semua diciptakan berpasangan yang melahirkan keseimbangan dan harmoni yang menjadikan banyak keindahan.

Dalam berbagai keanekaragaman baik wujud maupun hayati, kita melihat keberlimpahan yang tak terhinga itu. Dan manusia pada hakekatnya diberi keleluasaan untuk melakukan pilihannya dalam keberlimpahan itu. Kata orang bijak, kita itu terbentuk bukan karena “nature” kita ataupun “nurture” kita, melainkan oleh pilihan-pilihan yang kita lakukan sepanjang hidup kita.

Kita sendiri dicipta masing-masing dengan beragam, dengan berbagai kemampuan yang berbeda. Dapat dibayangkan kehancuran yang terjadi bila kebebasan memilih itu dilakukan tanda kendali. Dunia ini cukup kuat buat semua orang namun tidak untuk ketamakan seseorang. Inilah benih kemiskinan dan kesengsaraan yang menjadi petaka hidup. Bukan hanya seorang namun banyak sekali orang.

Dengan hadirnya bulan suci Ramadhan, bulan dimana diwajibkan bagi dia yang percaya untuk berpuasa, merupakan bulan pelatihan pengendalian diri. Bagi orang kebanyakkan puasa Ramadhan adalah menahan lapar, dahaga dan nafsu badani di siang hari. Bagi yang sedikit puasa adalah menahan semua indra berbuat dosa. Dan bagi yang terpilih dari yang sedikit itu puasa berarti mengendalikan diri secara keseluruhan dan integral, menahan semua hal yang menghalangi dia untuk berbuat hanya yang baik.

Pengendalian diri, dibarengi kepedualian terhadap yang selain dirinya, meniatkan hanya melakukan yang terbaik yang dia bisa, merupakan prasyarat yang dituntut. Agar kita dapat hidup bersama sebagai suatu keluarga, masyrakat, bangsa dan Negara maupun sesame makhluk yang mendiami suatu pesawat ruang angkasa yang kecil ini, yang bernama bumi.

Yang demikian itu, kita secara bersama dapat menikmati kemakmuran yang disajikan bagi kita semua berupa keberlimpahan pilihan. Yang kita gunakan kebebasan memilih itu dengan pengendalian diri yang kuat sehingga kita berbahagia melakukan pilihan itu dengan sadar dan gembira, damai dihati dan dengan rasa syukur yang berkelanjutan.

Semoga….

 

 

Copyright © 2008, Powered by CV. Mandiri Multi Kreasi
Design by Tata & Izul