PERAN FALSAFAH PERUSAHAAN DALAM PERILAKU PERUSAHAAN
Oleh: Palgunadi T. Setyawan
Tuhan menghadirkan kejadian dalam hidup kita untuk menguji dan melihat akhlak kita. Akhlak itu adalah respon spontan kita menghadapi kejadian. Yang kita lakukan berulang sehingga menjadi kebiasaan kita. Kejadian, hadir sebagai suatu ketetapan yang harus diterima. Bukan suatu pilihan. Sedangkan respon kita terhadap kejadian itu merupakan pilihan kita. Pilihan kita untuk berfikir dengan cepat, tepat, mengambil keputusan dan bertindak. Apabila tindakan kita itu terpola, menjadi kebiasaan kita, maka itulah ahklak kita.
Ketika bencana terjadi, seperti baru-baru ini di Padang Pariaman dan juga di Jawa Barat, misalnya, perusahaan dengan akhlak tanggung jawab sosial yang benar meresponnya dengan tanggap, cepat dan tepat. Bukan saja dengan dana, tenaga serta pertolongan pertama tapi terutama dengan tanggung jawabnya.
Listrik padam, telekomunikasi putus, infrastuktur hancur, layanan lumpuh. Mereka, perusahaan perusahaan itu, menghadirkan diri, dan dengan cepat memulihkan tanggung jawab mereka. Bangkit memulihkan dan membangun kemuliaan mereka. Itulah perusahaan-perusahaan dengan tanggung jawab sosial yang benar.
Saya melihat suatu bank yang gedungnya hancur, ATMnya tidak berfungsi. Padahal pensiun saatnya harus dibagi. Mereka mendirikan tenda dihalaman parkir sesegera esok harinya setelah gempa. Gempa terjadi Rabu sore, Senin pagi walau dengan tenda, dihalaman, mereka melayani para nasabahnya, para pensiunan mengambil pensiun mereka, tepat waktu.
Itulah perusahaan dengan akhlak yang benar. Dengan akhlak tanggung jawab sosial yang seharusnya. Yang melakukan tindakan yang tepat, cepat dan benar. Pada saat yang tepat pula. Tindakan yang dilandasi cara berfikir yang tepat dan benar. Dan selalu begitu, berkesinambungan dan berlanjut, karena dilandasi oleh nilai yang mereka emban dan yakini, yang telah mereka tuangkan dalam falsafah perusahaan yang mereka canangkan.
Itulah esensi peran falsafah perusahaan dalam CSR.
Untuk PKPU, 26 Okt ‘09