Hikmah Memberi Maaf
Oleh: Palgunadi T. Setyawan

 

Saling maaf memaafkan, menjelang dan selama Lebaran, setelah berpuasa dibulan Ramadhan merupakan tradisi cantik masyarakat kita. Memberi dan meminta maaf merupakan perbuatan mulia dan anggun. Khususnya memberi maaf.

Meminta maaf, pada hakekatnya sesuatu yang belum tentu pasti hasilnya. Dia amat tergantung pada yang dimintai maaf. Bisa diberi bisa tidak, hasilnya amat diluar kendali kita.

Namun sebaliknya, memberi maaf itu sepenuhnya dalam kendali kita. Ia merupakan niat dan amal perbuatan kita. Memberi maaf atau memaafkan adalah sikap bathin dan amalan kita untuk melupakan kejadian buruk yang menimpa kita karena perbuatan seseorang atau beberapa orang. Serta disertai niat untuk tidak membalas perbuatan buruk itu.

Karena itu amat tidak tepat seseorang yang mengatakan, saya bisa memaafkan tapi tidak bisa melupakan. Ini sikap memaafkan yang tidak lengkap dan menjadi tidak bermakna.

Memberi maaf atau memaafkan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, sepenuhnya, seutuhnya, tulus ikhlas. Barulah dia bermakna. Barulah dia penuh berkah, anggun dan mulia. Yang pada dasarnya keanggunan dan kemuliaan itu milik si pemberi maaf itu juga.

Jadi pada hakekatnya apabila kita memberi maaf, sebenarnya kita sedang membangun keanggunan dan kemuliaan kita sendiri yang esensinya membangun kebahagiaan kita.

Apa sih kebahagiaan itu? Berbahagia itu ditandai oleh tiga hal: yang pertama, bergembira waktu berbuat, berbuat apa saja. Kedua, damai dihati, tidak ada beban. Dan ketiga bersyukur. Rasa nyaman lahir dan bathin.

Pada saat memaafkan, kita membuang dari diri dan bathin kita seluruh beban yang diakibatkan kejadian buruk itu. Kita memerdekakan diri kita dari himpitan perbuatan buruk itu sehingga kita dapat meraih kembali kegembiraan, kedamaian hati dan kesyukuran kita.

Lalu bagaimana kalau perbuatan buruk itu sengaja atau tidak, kita yang melakukannya kepada orang lain. Hanya orang yang tidak wajar yang tidak menyesal apabila melakukan keburukan kepada orang lain.

Sesal juga sesuatu beban. Oleh karena itu, kita yang berbuat buruk kepada orang lain, sengaja atau tidak, pasti punya dorongan untuk meminta maaf. Meminta maaf berarti membebaskan diri dari himpitan penyesalan. Tidak usah ragu, lakukanlah. Segerakanlah. Sehingga kebahagian kita itu tidak akan tersandera oleh penyesalan perbuatan buruk kita sendiri.

Tentu kita harus sabar untuk memerima apapun hasil permintaan maaf kita itu. Bisa tidak segera diberikan, malah barangkali ditolak sama sekali, itu konsekuensi perbuatan kita. Namun hal itu tak usah jadi pikiran kita, karena hakekatnya memberi maaf atau tidak itu adalah amal dari mereka yang kita mintai maaf itu. Dia yang akan memikul atau mendapat berkah dari amal mereka itu. Oleh karena itu hikmah memberi maaf dan memohon maaf adalah untuk membangun kebahagiaan kita sendiri. Lakukanlah dengan anggun. Keanggunan “grace” adalah dia yang tidak wajib, memberi kepada dia yang tidak pantas untuk menerima pemberian itu.

Sang Khalik Pencipta kita mengurus kita dengan anggun. Banyak dari kita, yang karena kelakuan kita sendiri sebenarnya tidak pantas untuk menerima segala pemberian-Nya. Namun karena kasih sayang-Nya, diberi-Nya juga kita.

Marilah pada kesmpatan bulan suci yang penuh rahmat dan ampunan-Nya itu kita menengadahkan muka dan tangan kita, sebagai individu, anggota keluarga, masyarakat, bangsa dan negara serta umat seluruhnya, agar selalu diberi rahmat, ampunan, ridha dan kasih sayang-Nya. Agar kita dapat hidup bersama dengan berbahagia.

Marilah kita aminkan doa yang dilantunkan oleh sebagian dari kita:

“ Ampunilah kesalahan kami, sebagaimana kami mengampuni yang bersalah kepada kami “

Berkenaan dengan Iedul Fitri 1429 H, mohon maaf lahir bathin. Selamat berbahagia..  

 

Copyright © 2008, Powered by CV. Mandiri Multi Kreasi
Design by Tata & Izul